28 September 2008

Mumpung ke Eropa, tak ada salahnya jalan-jalan lintas negara. Dengan bekal paspor Schengen untuk negara yang tergabung dalam Euro semakin memudahkan perjalanan ke negara-negara Eropa. So,… nikmati hidup…ajiiiibb…ceileeee

Perjalanan kali ini ke sebuah kota di negara di Scandinavia/Eropa Utara, Kopenhagen/Kopenhavn, kota terbesar sekaligus ibukota Denmark. Negara yang berbentuk monarki konstitusional dipimpin Ratu Margrethe II sedangkan pemerintahannya dipimpin oleh perdana menteri. Motto ratunya  :

Guds hjælp, Folkets kærlighed, Danmarks styrke (bahasa Denmark: Bantuan Tuhan, kecintaan Rakyat, kekuatan Denmark). Dari geografinya Denmark dibatasi darat oleh Jerman, dibatasi laut di sebelah timur oleh Swedia, dan utara oleh Norwegia. Kalo di Indonesia, Denmar terkenal 2 tahun terkahir ini karena kasus kartun Nabi Muhammad SAW oleh harian Jyland-Posten, sempat produk-produk Denmark di boikot, PM-nya pun akhirnya minta maaf ke negara-negara Islam.

Nah, kota yang akan kami datangi kali ini bernama Kopenhagen, kalo dari Swedia sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kereta listrik SJ, bayarnya 580 Kr sekitar 800an ribu rupiah. Ada cara lain yaitu pake bis dan kapal laut, bayarnya lebih murah tapi jam perjalanannya lebih lama. Karena ingin lebih menikmati suasana dan keindahan Denmark, mumpung beasiswa sudah turun tidak ada salahnya jalan-jalan bareng. Naik kereta listrik tuuut..tuuuut..tuuut siapa hendak turun, ke Malmo, atau Denmark…dst (lupa lagunya :p)

Cerita keberangkatan kami tergolong mendadak, dengan persiapan cuma sehari, niatnya menemani dosen kami yang Rabu besok pulang ke Indonesia, jum’at langsung beli tiket via internet, sabtunya langsung berangkat. Awalnya yang mau berangkat kesana sekaligus menemani dosen kami cuma 2 orang, setelah ditawari dan mumpung lagi kosong akhirnya yang berangkat jadi 5 orang. Dengan inisial RBC, MA, SPW, dan H menemani Bu W.

“Besok Sabtu, ketemu jam 7 di central station Gotheborg” terngiang-ngiang pesan tentang rencana keberangkatan kami. Dari Masjid Beuleve kami berangkat, masjid besar satu-satunya di Gotheborg, Swedia. Setelah semalam ber-i’tikaf memburu Lailatul Qadr bareng mahasiswa Indonesia lainnya. Subhanallah tarawih setiap malam rata-rata 3 juz dengan imam yang tentunya hafidz, kalo tidak kuat-kuat bisa tertidur saat imam membaca ayat AlQur’an saat shalat (pengalaman pribadi..). Shalat tarawih 8 rakaat diselaikan kira-kira 2,5 jam. Jama’ah i’tikaf cukup banyak, pesertanya berasal dari berbagai negara, disana disediakan sahur bersama. Sahur malam ini tidak pake nasi, roti arab plus telur, kentang, dan buah menemani sahur kami. Ada yang nyeletuk “Indonesia kalo ndak pake nasi belum makan”.

Dari masjid kami berangkat menuju Olopsoid (apartemennya RBC dan MA), setahu kami pagi-pagi agak susah untuk dapat tram sesuai dengan keinginan kami. Alhamdulillah, ada brother Darun, pengusaha restoran Thailand, bersedia menumpangi kami sampai di dekat Olopsoid. Brother Darun adalah sahabat kami, terkenal dermawan dikalangan muslim di Gotheborg, apalagi untuk anak-anak kos muslim. Kedermawanan berbuah rejeki yang lancar, Brother Darun memiliki 3 outlet restoran Thailand dan satu hal yang membuat kami bangga setiap restoran ada label halalnya, ia tak mau menerima daging kalo ia tidak yakin benar-benar halal, bahkan rela memotong sendiri agar daging yang diterima restorannya terjamin dan sesuai syariat Islam. Untuk anak kos, saudara kami ini menjadi penolong disaat yang susah sekaligus membantu mengurangi pengeluaran makan. Biasanya jika ada lauk yang berlebih di restorannya, anak-anak kos muslim adalah tempatnya berbagi. Untuk kami, brother Darun menjadi usaha penghematan dan contoh kedermawanan riil ditengah-tengah lingkungan kami. Dan tak lupa, untuk Ramadhan kali ini, setiap minggu brother Darun menjamu kamimahasiswa muslim Chalmers untuk berbuka puasa dengan menu khas Thailand. Semoga Allah memberi balasan yang terbaik saudara kami dan kami bisa mencontoh kebaikan-kebaikan beliau. Amin

Sampai di Olopsoid pukul 06.20, hal yang pertama yang kami lakukan adalah mengecek jadwal keberangkatan tram ke Central station untuk memastikan kami sampai disana tepat waktu. Karena waktu yang mepet, persiapan pun dilakukan seadanya, bahkan satu dari 3 yang akan pergi cuma cuci muka untuk perjalanan kali ini (NB: bukan penulis lo..). Baju hangat, paspor, dan tak lupa kamera untuk mengobati penyakit narsis menjadi bawaan utama. Siap!… mari kita pergi…..

to be continued…

Comments No Comments »

Ahad, 20 September 2008

Mahasiswa butuh nutrisi yang memadai untuk beraktivitas. Gizi yang seimbang serta sehat menurut kaidah kedokteran menjadi hal penting yang perlu dipertimbangkan. Dan satu lagi bagi anak kos, kecepatan dalam pembuatan menjadi faktor penting, karena karena ritme aktivitas yang padat butuh waktu yang cepat dalam membuat makanan tanpa melupakan asupan gizi.

Memasak bagi sebagian mahasiswa menjadi momok, ketika ditanya,” Bisa masak apa?” spontan menjawab, “Masak air, mie, nasi”. Kalau ditanya gimana dengan masak lauk? Ntar dulu itu urusan lain. Biasanya kalo masak lauk kata seorang teman sering keasinan, ada yang bilang kalo sering keasinan berarti tandanya dah pengen nikah, perlu diteliti…

Sudah 3 minggu kami berada di Swedia. Saat ramdhan adalah waktu-waktu sering berkumpul bersama teman-teman Indonesia. Seperti kebiasaan di Yogya, acara buka bareng gratisan adalah cara tersendiri mengurangi pengeluaran serta menambah gizi bagi anak kos. Jangan sampai mitos anak kos = generasi Indomie terjadi lagi disini, walau Indomie ada di Swedia dengan harga 4 Kr sekitar Rp. 6000, semoga Indomie bukan menjadi menu utama kami.

Solusi untuk mengatasi ketergantungan pada makanan cepat saji (termasuk Indomie) adalah masak sendiri. Masak bagi sebagian orang adalah ajang “trial and error” banyak “error”nya, kadang keasinan, kadang gosong, salah bumbu, mau buat nasi goreng jadinya nasi gosong, dll. Bahkan kami dapat cerita, sepasang dosen kami pernah ke Swedia dan masak sendiri.. Dengan prinsip neraca massa dan neraca energi makanan pun jadi, entah rasanya seperti apa yang penting bisa dimakan.

Nah, pengalaman belajar masak adalah pengalaman seru disaatku berada jauh dari Indonesia. Rindu masakan rumah bisa terobati dengan belajar masak dari sang ahli. Dengan titel Ph.D menjadi jaminan bahwa guru masak ini benar-benar pengalaman, pengalaman 5 tahun di Amerika kuliah sambil masak sendiri ditambah ada resep khusus dari eyang menjadi jaminan bagi kami ilmu yang ditransfer shahih dan punya keakuratan resep yang bagus. Diceritakan oleh beliau, dulu waktu di Amerika kalau ndak masak sendiri masih kurang sreg karena kehalalan belum terjamin, jadi solusinya adalah masak sendiri.

Hari itu, ada 4 orang mahasiswa belajar masak. Yang paling tua berinisial RBC dan SPW, dan 2 yang masih muda dan imut-imut berinisial AM dan yang paling imut berinisial H. 3 murid datang terlebih dahulu yaitu H, AM, dan SPW setelah bersusah payah menaiki tangga setinggi bukit dan salah turun bisa karena lupa pencet tombol berhenti. Tanpa membawa apapun kecuali niat yang tulus dan kesiapan menyantap makanan hasil pelatihan memberanikan diri datang karena sudah janji.

Sampai didepan apartemen guru masak, hal pertama dilakukan adalah menelepon untuk dibukakan pintu. Dengan senyuman khasnya, guru kami mempersilahkan 3 murid pelatihan masak untuk masuk, dengan busana daster membuat beda, seperti layaknya ibu-ibu, berbeda dengan penampilan yang biasa kami lihat.

Pelatihanpun dimulai, peserta dengan inisial RBC pun datang. “Maaf bu terlambat, karena ada main badminton”, “Wah cocok ni, biasanya setelah lelah olahraga makannya pasti banyak” guyonan guru masak kami membuat suasana mulai cair.

Pembagian tugas pun dilaksanakan, walau hanya 2 orang yang mempraktekkan, sisanya sebagai mandor dan komentator, pelatihanpun dilaksanakan. Padahal maunya 2 orang mandor dan komentator sekaligus destroyer ini yang perlu dilatih untuk masak.

Praktek pertama adalah bagaimana mengiris buah dan telur matang dengan baik dan benar untuk salad. Salad adalah makanan tradisional tempo dulu, dibuat dari campuran buah biasanya apel, pir, mangga, dll dicampur selai. Kali ini kami memakai 2 macam buah yaitu apel dan pir, buah ini dibeli di Kveberg, pasar tumpah akhir pekan tempatku mendapatkan jaket winter dengan harga murah dan pengalaman lucu, harganya cuma 10 Kr = Rp. 15.000.

Buahpun kuiris dengan hati senang, walau dalam hati sempat berfikir, kenapa ndak pake apel yang ada di tepi jalan ya atau di dalam gedung Student Union ya ? Tinggal pura-pura duduk, liat kanan kiri, kalau tidak ada orang tinggal ambil aja. Toh halal karena diluar pagar…

Mengiris salad kali ini kulakukan dengan tenaga maksimal dan semangat 45, sampai-sampai guru masakku kaget kok cepat banget. Kecepatan adalah fungsi niat dan energi, energi yang dipakai adalah energi kuli bukan koki. Setelah mengiris buah, disuruh lagi untuk mengiris terong untuk sambal, “Ndi, terongnya jangan terlalu tipis biar tidak rusak” nasehat yang cukup untuk mengetahui ukuran terong yang akan diiris. Sekejap terongpun selesai diiris, seperti kuli, langsung bertanya “Ada lagi yang bisa dibantu lagi Bu?”. kerja selanjutnya disuruh mengiris telur matang, sempat bingung telur matang untuk apa? Eh,ternyata telurnya dipakai campuran salad, putihnya diiris dan kuningnya dipake untuk selainya dengan campuran mentega.

Waktu berjalan dengan cepatnya, salad selesai, sambal terongpun baunya membuat semakin lapar. Celetukan keluar dari mulut guru masakku, “Wah cepat sekali ngirisnya,sepertinya pake tenaga kuli bukan tenaga koki” membuat spontan para murid pelatihan pada tertawa. Ditambah humor-humor segar dari keempat peserta pelatihan membuat suasana sore itu riang gembira, tak ada sekat antara guru dan murid.

Suasana santai penuh dengan humor jarang ditemui jika di Indonesia, sebab guru masak kami adalah dosen kami sendiri. Inisialnya W, dosen yang berkantor di lab.bahan makanan sekaligus menjadi penanggung jawab hubungan kerjasama di jurusan kami, sangat pas sebagai guru memasak yang mengajarkan bagaimana mengolah bahan makanan.

Sekat dosen dan murid tidak kami rasakan kali ini, sekat yang ditanah air kadang membuat pemisah hubungan antar manusia. Entah dengan alasan menaruh hormat atau kedudukan yang berbeda sering membuat hubungan hanya sebatas didalam kelas. Berada di negeri orang membuat kedekatan kami begitu nyata, saling membantu dan memberi masukan adalah hal biasa tanpa pamrih sedikitpun. Hingga ada yang curhat tentang jodohpun diladeni.

Akhirnya selesai juga 4 resep kami. Salad buah, nasi goreng, gorengan tuna, dan sambal terong pun selesai dengan cepatnya. 4 dari 5 resep yang dipersiapkan oleh guru masak kamipun selesai dalam waktu yang cepat. Waktu berbuka pun tiba, jam menunjukkan pukul 18.15, serentak kami membatalkan puasa dengan kurma dan jus buah yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Diskusi-diskusi ringan mewarnai santap berbuka kali ini, mulai dari masalah kampus, proyek, pengalaman hidup, hingga membahas perbaikan negara.

Berbuka dengan makanan ringan sudah kami lewatkan, menu berbuka yang ideal, ada buah, jus, kurma dan cemilan, menu elit untuk anak kos Indonesia. Setelah puas dengan makanan ringan, saatnya shalat dulu sebelum makanan besar kami santap. Shalat maghrib dan shalat sunnah ba’diyah telah selesai. Saatnya mencoba makanan hasil pelatihan kali ini.

Ternyata, makanan hasil pembelajaran kali ini tidak kalah dengan makanan rumah di Indonesia. Gorengan tuna habis, nasi gorengpun habis karena 2 orang destroyer dengan inisial AM dan RBC nambah 2 kali, sambal terong masih sisa dikit, dan salad masih sisa karena kekenyangan dan menjadi menu penutup, bukan ding, karena mengikuti sunnah Nabi berhenti makan sebelum kenyang.

Selesailah rangkaian acara pelatihan masak yang ditutup dengan makan makanan hasil pelatihan kali ini. Hati gembira, perut terisi, dan uang saku hemat, dasar mahasiswa!. Kami dilepas dengan senyuman oleh guru masak kami. Senyuman yang memberi kehangatan disaat suhu Gotheborg cuma 13 C.

Datang diundang, pulang diantar sampai didepan. Kalau ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, kalo ada umur yang panjang, kapan pelatihan masak lagi?

Comments No Comments »

Dunia adalah panggung sandiwara, manusia sebagai pemainnya kata seorang pujangga. Bagi kita umat Islam, dunia tempat berlomba untuk memenangkan janji Allah di kehidupan yang kekal kelak alam akhirat. Manusia memiliki banyak kekhasan masing-masing, dalam melihat suatu masalah ada tipe optimistis ada tipe peseimistis, ada pemenang ada pula pengecut, ada yang emosional dan ada pula yang dingin terhadap suatu masalah. Keribadian ini menjadi karakter bawaan dan individual.
Layaknya perlombaan, selalu ada yang menang dan kalah. Dalam hidup pun karakter pemenang dan pecundang terlihat pada seseorang. Karakter yang menjadi sikap individu yang merupakan kombinasi dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan yang mempertegas siapa dirinya sebenarnya. Individu pemananf dan pecundang dapat dilihat dari cara menyikapi masalah.
Ketika pemenang melakukan kesalahan dia berkata “saya salah!”
Ketika pecundang melakukan kesalahan dia berkata, ”ini bukan salah saya!” dan berusaha mencari alasan.
Pemenang berkata, ”saya sudah baik, tapi saya bisa lebih baik lagi!”
Pecundang berkata, ”saya tidak sejelek orang lain!”
Pemenang selalu mencoba belajar dari setiap orang yang lebih baik dari dirinya
Pecundang selalu mencoba menjatuhkan orang lain dengan berbagai cara.
Pemenang berkata, ”pasti ada cara yang lebih baik mengerjakannya!”
Pecundang berkata, ”begitulah biasanya yang dikerjakan disini!”
Pemenang berkata, ”ini sulit tapi mungkin!”
Pecundang berkata, ”ini mungkin tapi sulit untuk dikerjakan!”
Pemenang selalu mempunyai rencana-rencana.
Pecundang selalu mencari alasan-alasan.
Pemenang mempunyai komitmen-komitmen.
Pecundang hanya berjanji-janji saja.
Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah.
Pemenang tuntas memecahkan masalah
Pecundang selalu tanggung-tanggung dan tidak pernah memecahkan masalah.

Secara psikologi, karakter seseorang memiliki pengaruh tidak hanya untuk dirinya tetapi juga mempengaruhi lingkungan dimana orang itu berada. Karakter sebuah bangsa merefleksikan karakter masyarakat di dalamnya, dan semakin kecil lagi individu di dalamnya. Jika karakter individu-individu dalam sebuah bangsa baik, maka bangsa tersebut akan muncul sebagai bangsa yang besar dan memilki pengaruh positif bagi bangsa lain di dunia. Demikian juga sebaliknya.
Karakter bukan suatu pemberian, tapi adalah hasil kerja keras yang panjang. Proses menjadi pemenang tak akan diraih oleh individu pemalas, berpangku tangan, dan mudah putus asa. Pemenang akan senantiasa memperbaiki diri tiap waktu, tiap kesempatan. Selalu melihat masalah yang sulit sebagai tantangan bukan hambatan. Membangun karakter pemenang dari dalam diri masing-masing menjadi syarat mutlak jika ingin melihat Indonesia yanglebih baik. Aplikasi nilai-nilai positif seperti kedisiplinan, kejujuran, berani mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab harus menjadi budaya yang mengakar dalam diri. Semua butuh latihan, karakter pemenang akan selalu berfikir perubahan menjadi lebih baik. Semoga!

Terinspirasi dari situs beasiswa www.ppsdms.org

Comments No Comments »

RUMAH SERIBU CERMIN

Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama “Rumah Seribu Cermin”.
Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi “Rumah Seribu Cermin”. Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi.
Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat.
Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah kecil anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangay dan bersahabat.
Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, ”Temat ini sangat mennyenangkan. Suaru saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin.”
Sesaat setelah anjing itu pergi, datangkah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu itu tidak seceria anjing sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat.
Segera ia menyalak sekeras-kerasnya, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia ketakutan dan keluar dari rumah sambik berkata pada dirinya sendiri, ”Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi.”
Semua wajah yang ada di dunia adalah cermin dari wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang anda jumpai? (japanese Folktale).
Cerita diatas bisa terefleksikan terhadap aktivitas kita sehari-hari. Bukan dengan siapa Anda bergaul, tetapi bagaimana Anda bergaul. Ketahuilah shirah Rasulullah telah mengajarkan kita bagaimana Nabi SAW sering mengajak preman Makkah (mis: Umar bin Khatab, Rukanah sang pegulat) dan akhirnya dengan hidayah Allah mendapat hidayah untuk memeluk Islam. Al Hudaibi pernah berkata : Dirikanlah islam dihatimu, maka ia akan berdiri di negaramu.
Islam mengajarkan kelembutan akhlak, kehangatan dalam bergaul. Sabda Nabi SAW: Senyummu pada saudaramu adalah shadaqah… Jangan pelit senyum ya J.[Andi]

Comments No Comments »

                              

Oleh : Haryandi

 

Masalah lingkungan akhir-akhir ini meresahkan hampir seluruh umat manusia. Kenaikan
permukaan air laut, angina puting beliung, banjir, longsor, kekeringan, dan
bencana alam mengisi ruang berita di media massa maupun elektronik. Alam telah
hilang keseimbangannya. Disisi lain, kian hari alam telah dirusak dan dikuras
sumber dayanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ketidakseimbangan terjadi
akibat alam terus menerus dikuras tanpa memikirkan kelangsungan untuk generasi
berikutnya.

Dalam Islam, hubungan manusia dengan alam diatur dalam kerangka tanggung
jawab dan cinta. Manusia diangkat sebagai khalifah di bumi tidak sepatutnya
bertindak seakan-akan menjadi raja diraja. Kehidupan bukan hanya hak satu
generasi saja, Allah berfirman: ”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi, sesudah (Allah) memeperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut
dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-oran yang berbuat
baik.” (A;-A’raf:56)

Sebuah kisah shalafus shalih bisa menjadi pelajaran bagaimana Islam peduli
dengan lingkungan. Saat itu, pengiriman ribuan tentara diperintahkan oleh
khalifah Abu Bakar ke wilayah Syam untuk memperluas kekuasaan Islam sekaligus
menyebarkan risalah dakwah Ilahi.
Kaum muslimin dibawah komando Panglima
Yazid bin Sufyan. Mereka berbaris rapi ketika Abu Bakar meninspeksi pasukan
sesaat sebelum keberangkatan pasukan. Abu Bakar kemudian memberikan petuahnya
kepada Yazid sang panglima, “Wahai Yazid, ada sepuluh hal yang ingin aku
pesankan kepadamu;

  1. Janganlah
         engkau membunuh bayi.
  2. Janganlah
         engkau membunuh perempuan.
  3. Janganlah
         engkau membunuh orang yang lanjut usia.
  4. Janganlah
         engkau menebang pohon yang berbuah.
  5. Janganlah
         engkau menghancurkan bangunan.
  6. Janganlah
         engkau menyembelih kambing ataupun onta kecuali untuk dimakan.
  7. Janganlah engkau merobohkan pohon
         kurma.
  8. Janganlah engkau membakar pohon
         kurma.
  9. Janganlah engkau berkhianat
  10. Dan jangan engkauy takut!

Pesan khalifah Abu Bakar merefleksikan bahwa ajaran Islam peduli dengan
lingkungan. Dalam keadaan perang pun, Islam mengajarkan etika dan aturan bahwa
lingkungan harus tetap dilestarikan. Alam adalah bagian terdekat dari manusia,
jika alam rusak maka akan mengganggu kehidupan manusia. Saat ini kita tidak
dalam peperangan, seharusnya kita bisa berbuat lebih banyak. Jaga lingkungan,
bumi ini bukan warisan dari nenek moyang, tapi warisan untuk anak cucu. Wallahu
a’lam.

 

Comments No Comments »

Al
Qur’an vs. Nasyid

 

“Nantikanku
dibatas waktu….” senandung nasyid Edcoustic itupun selesai kemudian dilanjutkan
dengan… “Assalamu’alaikum ya akhi…ya ukhtii…” sebuah nasyid terbaru dari OPICK.
Akhir dan awal lirik nasyid yang berbeda ini terdengar di sebuah kamar
berukuran 3X3 di kontrakan X yang dihuni para aktivis dakwah, senandung nasyid
terdengar cukup keras hingga mengganggu tetangga sebelah. Hampir tiap hari,
khususnya pagi dan sore hari nasyid berkumandang di sela-sela aktivitas seorang
Y yang bertitel aktivis di sebuah lembaga mahasiswa di universitas favorit di
Yogya ini. Berbagai jenis nasyid pun ia simpan di komputer/laptopnya, mp3nya,
mp4nya, bahkan nasyid menjadi ringtone HP favoritnya.

 

Fenomena nasyid di satu sisi menjadi hal
positif sebagai alternatif hiburan kaum muslimin, untuk menghibur hati, pelipur
lara maupun pembangkit semangat. Begitu banyak jenis nasyid saat ini. Dari
jenis nasyid perjuangan, cinta illahi, melankolis hingga samara (sakinah,
mawaddah, warahmah) bahkan dengan berbagai pilihan macam gaya, versi pop,
acapella, bahkan nge-rap pun ada. Banyaknya alternatif nasyid membuat kita bebas
memilih mana jenis nasyid yang disuka. Mau Samara ada Seismic dan In Team, mau
perjuangan coba Izzatul Islam dan Shoutul Harakah, mau acapella pilih Fatih
atau Suara Persaudaraan, mau ngerap dengerin Thoopat hingga Gigi, mau nasyid
renungan ada OPICK, Raihan bahkan Ungu-pun jadi alternatif.

Nasyid bagi sebagian kalangan aktivis dakwah
seringkali mengalahkan porsi Al Qur’an untuk dibaca, didengar dan direnungkan.
Target bacaan Al Qur’an 1 juz yang menjadi standar bagi aktivis dakwah sering
tidak tercapai, namun betapa banyak nasyid yang dikonsumsi perhari menghiasi
kehidupan aktivis. Padahal seharusnya bagi orang-orang beriman, hiburan
tertinggi mereka adalah Al Qur’an karena dia dapat menjadi penawar bagi hati
yang sedang sakit.

Tak ada syair yang seindah Al Qur’an
karena ia berasal dari kalam ALLAH swt. Seindah apapun bait kata dalam nasyid yang ditujukan untuk menggugah ghirah
seorang muslim, namun sungguh tak dapat menyaingi ghirah yang ditimbulkan
karena melantunkan ayat-ayat ALLAH, Al-Qur’an.

"Dan, Kami
turunkan Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman."
(QS.Al
Isra : 82)

Nasyid dapat menjadi sarana berda’wah dan hiburan. Tidak ada salahnya
bernasyid, namun terkadang kita terlalu berlebihan dalam bernasyid. Coba
renungkan, mengapakah hafalan nasyid kita lebih banyak dari hafalan Al Qur’an?
Mengapakah intensitas mendengar nasyid kita lebih banyak ketimbang mendengar Al
Qur’an? Kita sering menyanyikan nasyid, namun sedikit sekali melantunkan Al Qur’an.
Kita dapat dengan bangga menyanyikan nasyid ‘Tekad’ dari Izzis dengan ghirah
tinggi, namun justru sebaliknya saat kita melantunkan surat Al Anfal. Kita
sering dapat menitikkan air mata dan tertegun bila mendengar nasyid bernada
sendu seperti ‘Taubat’ dari Ar Royyan, namun jarang sekali mengalami hal yang
sama kala melantunkan surah Al Baqarah: 284-286.

Ya Akhi wa Ukhti…, layakkah kita disebut beriman, padahal Allah telah
berfirman : Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah
mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan
apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya
kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
(QS. Al Anfal : 2).

Ingatkah kita dengan janji yang disampaikan
Rasulullah SAW
dari
Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca
Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat
yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sayyid Quthub dalam mukaddimah dan pada pembahasan surat Al-A’raf didalam
kitabnya Fi Zilalil Qur’an menegaskan ”Mentadabburi Al-Quran merupakan
kewajiban dan berinteraksi dengannya merupakan sesuatu keharusan sedangkan
hidup di bawah naungannya merupakan kenikmatan yang tidak dapat dimiliki
kecuali orang yang dapat merasakannya, kenikmatan yang memberikan keberkahan
hidup, mengangkat dan mensucikannya… hal ini tidak akan dirasakan kecuali bagi
siapa yang benar-benar hidup di bawah naungannya, merasakan berbagai kenikmatan
yang bisa dirasakan, mengambil dari apa yang dapat diraih; kelembutan, kebahagiaan,
ketenangan, ketenteraman, kenyamanan dan kelapangan)”

Mendengarkan nasyid boleh-boleh saja, namun harus proporsional. Al Qur’an
harus dijadikan prioritas pertama dan utama yang harus dibaca, didengar, dan
direnungkan. Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan
kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini dengan Al Qur’an sebagai
pedoman dan penyemangat dalam berjuang.
Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini.
Sudahkah Al Qur’an kita jadikan sebagai pedoman dan penyemangat dalam  menyemai dakwah ini menjadi subur dengan
perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ?  

Ya Rabbi.. ampunilah kami jika kami bersalah melalaikan kitabMu dan tidak
tergetar hati kami ketika disebut asma-MU…
Astaghfirullah… []

Comments 2 Comments »

Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi

Porak lagi negeri ini

Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap

Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu

Sudah berbaris-baris memanggil-manggil

Keluarlah keluarlah saudaraku

Dari kenyamanan mihrabmu

Dari kekhusu’an i’tikafmu

Dari keakraban sahabat-sahabatmu

Keluarlah, keluarlah saudaraku

Dari keheningan masjidmu

Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan

Ke pasar-pasar ke majelis dewan yang terhormat

Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat

pengambilan keputusan

Keluarlah-keluarlah saudaraku

Dari nikmat kesendirianmu

Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini

Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yang tersisa

Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih

Di tengah badai gurun kehidupan

Keluarlah keluarlah saudaraku

Berdirilah tegap di ujung jalan itu

Sebentar lagi sejarah kan lewat

Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya

Sambut saja dia

Engkaulah yang ia cari

(Puisi karya M. Anis Matta, Hidayatullah_edisi Juli 2003)

Comments No Comments »

Segala puji bagi Allah yang menjaga hambaNya dari bahaya zina, sebuah penjagaan dengan syariat yang sangat fitrah bagi manusia. Pejagaan melalui hikmah dan pelajaran yang bsas diterima oleh akal dan pikiran manusia. Betapa banyak manusia yang tidak mendapat penjagaan dari perzinahan, sehingga indahnya pernikahan taj dirasakan bahkan pernikahan menjadi momok yang menakutkan. Pernikahan yang Silami menjadi sebuah impian seorang hamba yang dhoif ini semoga dapat menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan diri. Penyempurnaan yang tiada akhir, karena manusia jauh dari kesempurnaan.

Keluarga adalah fase berikutnya setelah fase remaja dan pemuda dilalui, alangkah bahagianya seorang hamba jikalau ia dipilihkan oleh Allah seorang pendamping hidup yang kelak membawanya tetap bersatu dalam jannahNya. Keluarga yang dihiasi dengan syariatNya, keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah dinaungi oleh kecintaan kepadaMu Ya Allah.

Impian mendapat pendamping yang sholihah adalah impian setiap ikhwan/pria, impian yang menurut surat Annur ayat 26 menjadi janji Allah bagi laki-laki yang baik akan mendapat wanita yang baik-baik begitupun sebaliknya. Janji Allah selalu benar adanya, tapi mengapa kita sering mementingkan hawa nafsu dan persepsi pribadi dalam memilih calon istri. Dalam kesendirian seorang hamba selalu berdoa agar Istri dan anak-anak menjadi penyedap mata dalam hidup ini. Keluarga dengan nuansa Qur’ani dan diisi oleh ruh Islami.

Betapa sengsaranya keluarga yang tidak dihiasi oleh indahnya Islam, sehingga hubungan suami istri hanya sebatas pedagang pembeli bahkan seperti bos dan karyawan. Mungkin ini yang menyebabkan lebih dari 50% keluarga di Amerika menghadapi perceraian. Ketika keluarga hanya dimaknai ibarat jual beli bukan sebuah pengabdian yang membutuhkan pengorbanan kepada pasangan.

Islam mengajarkan suatu kaidah bahwa istri yang mengabdi kepada suaminya akan mendapat ganjaran tiada tara berupa dapat masuk surga dari berbagai pintu. Lebih dari itu, kaidah ini membawa setiap pasangan agar senantiasa berbuat terbaik bagi yang lain, Sebagaimana contoh dari tauladan kita Rasulullah SAW. Begitu mesra hubungan keluarga beliau, panggilan yang membuat Aisyah tersipu malu tatlkala dipanggil dengan panggilan si wajah agak kemerah-merahan. Atau tatkala menemani istrinya untuk lomba lari, terkadang Aisyah menang atau sebalinya. Keluarga yang didasari ingin berbuat terbaik bagi pasangan. Sebuah fragmen hidup yang jarang kita temukan di keluarga selain Islam.

Atau fragmen seorang Khadijah, seorang pengusaha sukses yang rela menyerahkan hartanya kepada Rasul untuk digunakn di jalan Allah. Pengorbanan Khadijah yang menjadi orang pertama yang memeluk Islam di saaat yang lain mengejek bahkan mengancam membunuh suaminya akibat menyebarkan Islam. Inilah yang membuat Rasul senantiasa ingat kepada Khadijah, sehingga di suatu saat hal ini membuat Aisyah cemburu ketika ia bertanya siapa yang ia paling ia cintai diantara istrinya, Rasul menjawab Khadijah padahal saat itu Khadijah telah tiada.

Impian membangun keluarga Islami adalah impian yang terpendam dalam hati ini. Disaat krisis moral melanda masyarakat, benteng keluarga adalah salah satu solusi untuk penjagaan moral dan akhlaq. Yang kuimpikan sebuah keluarga yang diisi dengan Qur’an, ilmu dan kesederhanaan. Hiasan dalam keluarga bukan harta yang menjadi tujuan, tapi keridhoan Allah menjadi tujuan semata. Harta hanya sebagai sarana yang mendekatkan dengan cintaNya.

Keseharian yang diisi dengan Qur’an, bacaan, tafsir maupun muroja’ah senantiasa menjadi momen yang dinanti-nanti. Salaing tukar menukar ilmu, ibarat sekolah yang senantiasa diisi dengan madrasah ilmu, ilmu tentang hidup di dunia dan akhirat. Teladan menjadi acuan dalam mendidik keluarga, teladan menkadi kunci dalam mengubah diri, keluarga, masyarakat dan insya Allah menjadi ustadziatul alam.

Betapa indahnya keluarga yang mempunyai target kedepan, bahwa kita harus tetap bertemu di akhirat kelak di jannahNya sehing mereka saling tolong menolong untuk mencapai target tersebut. Rumah yang menjadi surga di dunia “Baiti jannati” adalah nikmat terbesar dalam hidup ini. Istriu yang namanya masih di Lauhul Mahfuz Bantu aku menggapai impian ini, Kita sekeluarga harus tetap bertemu kelak di surgaNya.

Dari seorang hamba yang ingin mengabdi kepadaMu Ya Allah

@ndi

Comments No Comments »

Membangun Citra dengan Peduli Sesama; Konsep Desa Binaan yang Mandiri dan Sejahtera

Oleh : Haryandi

Bencana yang melanda Indonesia tak henti-hentinya mengisi ruang berita di televisi, radio dan media cetak lokal maupun nasional. Bencana tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, banjir di berbagai daerah, longsor, kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta api, dan aneka bencana lainnya meninggalkan trauma, kesedihan, hilangnya harta dan nyawa bagi para korban.

Bencana membutuhkan kepedulian sesama semua elemen bangsa. Miris jikalau aneka bencana hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Banyaknya bencana membuat pemerintahan SBY-JK kewalahan, dana APBN banyak dialokasikan untuk penanganan musibah yang melanda negeri ini sehingga perencanaan awal pengalokasian dana untuk kesejahteraan dan kemajuan bangsa terhambat. Pengungsi, relokasi korban, rekonstruksi daerah paska bencana membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Seharusnya tanggung jawab membantu sesama bukan hanya kewajiban pemerintah semata namun semua elemen bangsa haruslah berperan.

            Elemen bangsa yang kiranya cukup signifikan membantu adalah kalangan usaha. Kekuatan kalangan usaha berada pada finansial, kekuatan ini sangat mendukung dalam usaha membantu pemulihan kondisi paska bencana dan kalangan usaha bisa membantu agar bencana dapat diantisiapasi. Bukankah salah satu unsur dari fungsi pendirian perusahaan adalah humanity, perusahaan memiliki kewajiban untuk membantu masalah sosial kemasyarakatan.

            Membantu sesama selain merupakan kewajiban perusahan tapi juga menjadi salah satu upaya membangun pencitraan positif perusahaan kepada masyarakat. Citra positif dengan social responsibility lebih kuat dampaknya dibanding entertainment semata. Dalam buku Sun-Tzu Applying Sun Tzu’s Art of War in Corporate Politics menyatakan “Earn their respect and gain their acceptance”. Sebuah kalimat Sun Tzu diatas mengajarkan bahwa jika ingin mendapatkan penerimaan dari orang lain maka hormati, dengarkan, rasakan dan pedulilah atas masalah mereka maka ia akan menerima dan mempercayai kalian.

            Kepedulian kaitannya dengan membangun citra sangat signifikan jika dapat dikelola dengan baik. Kepedulian berwujud materiil maupun non materiil pasti dibutuhkan oleh korban bencana. Masih teringat dalam benak kita, kisah para korban di Aceh, di Yogya yang kekurangan makanan, tempat tinggal dan pakaian untuk kebutuhan keseharian mereka. Sudah cukup membuat rasa iba untuk menguatkan motivasi kepedulian perusahaan kepada sesama.

            Membangun opini atau pencitraan perusahaan haruslah terencana dan sistematis Tipikal dari opini masyarakat adalah dinamis dan rasional. Dinamis maksudnya opini sesuai dengan kondisi kekinian dan rasional berarti sesuai dengan pola fikir dan tata nilai dalam masyarakat. Analisis kebutuhan saat ini, tanggung jawab perusahaan dalam hal sosial dibutuhkan untuk turut serta membantu daerah bencana .Oleh karena itu dibutuhkan rekayasa sosial agar antara kepedulian dan citra perusahaan saling menguatkan.

Aksi sosial kemanusiaan akan menyentuh tataran persepsi dan hati masyarakat. Beberapa hal yang bisa dilakukan kaitannya dengan aksi sosial seperti pelayanan kesehatan gratis, bantuan relokasi gempa, beasiswa, dan lainnya. Ada model yang cocok untuk saat ini, dimana aksi sosial bukan sekedar aksi reaksioner berkala namun aksi yang berkesinambungan dan pembinaan yaitu pengelolaan desa binaan.

            Desa binaan seperti desa percontohan yang sengaja dibina dan dikelola perusahaan menjadi desa yang mandiri. Desa yang dipilih sesuai dengan potensi ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan kriteria yang perusahaan butuhkan. Desa binaan dibangun secara integral dan holistik. Mulai dari ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan, budaya, sarana dan prasarana. Target yang diinginklan adalah percontohan dan kemandirian paska pembinaan.

            Partisipasi semua elemen desa adalah indikator dalam membangun desa binaan. Perusahaan bertindak sebagai inisiator, motivator dan fasilitator desa binaan untuk kemudian mencetak kader-kader desa untuk bisa berfikir strategis dan mandiri membangun desa. Pengikutsertaan kaum intelektual, kaum muda dan tokoh agama mempercepat akselerasi pembangunan desa.

Semua rencana harus dikomunikasikan bersama dan dikerjakan bersama dalam bingkai kepedulian dan persaudaraan. Optimalisasi peluang dan kemampuan masyarakat desa dibutuhkan strategi rekayasa sosial yang disesuaikan dengan budaya lokal. Rekayasa sosial dilakukan dengan rencana secara bertahap dan sistematis, jangan sampai perubahan dilakukan secara sporadis karena bukan penerimaan yang didapat mungkin usaha yang dilakukan perusahaan akan sia-sia.

            Ibaratnya desa sebagai bangsa, pastilah memiliki roadmap pembangunan. Adanya perencanaan berupa roadmap akan memudahkan planning, organizing, actuating, dan controlling dalam membangun desa. Perusahaan tentunya memiliki managemen yang bagus, desa binaan dapat juga sebagai sarana latihan tim managemen bagaimana mengelola masyarakat dalam lingkup kecil.

           Selanjutnya kaitannya dengan citra, jangan dilupakan peran media sebagai peran publikasi dan pemberitaan. Media diinformasikan tentang kepedulian perusahaan. Tahap demi tahap pembangunan desa binaan diinformasikan kemudian hasil riil dari mengelola desa binaan ditampilkan sebagai upaya menyadarkan masyarakat bahwa indah ketika peduli sesama. Komunikasi yang aktif dan partisipatif membawa masyarakat lebih tahu apa yang kita lakukan.

            Merawat kepercayaan orang lain tidaklah mudah, butuh bukti dan aksi riil. Usaha perusahaan peduli dengan sesama berbanding lurus dengan citra positif perusahaan.

(dua tahun sudah tsunami Aceh dan Nias, 8 bulan gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah tapi saudara-saudara kita itu masih banyak yang tinggal di tenda-tenda tanpa jelas nasibnya. Jangan lupakan mereka)

Comments No Comments »

Pemimpin dimanapun ia berada ia memilki ambisi untuk berbuat yang terbaik bagi siapapun, dimanapun ia berada. Tak kenal lelahdalam bergerak dan bertidak. Setiap kerja dan pikirannnya seanantiasa berfikir bagaimana berbuat dan berkontribusi untuk orang lain. Karena satu yang ia inginkan bahwa hidup tak akan sia-sia.

Pemimpin berpengaruh sekaligus menggali pengaruh dalam tiap jalan hidupnya. Jadilah pemimpin dan jangan takutjadi pemimpin karena kita adalah pemimpin minimal untuk diri kita sendiri dan setiap detik hidup ini kan dipertanggungjawabkan karena kita adalah pemimpin.

Fight to be the best ready for the worst !!!!

Comments No Comments »